Langsung ke konten utama

Sampai, kapan?

Saat ini saya sedang berada di commuter line tujuan Jakarta Kota. Angan saya ikut bergerak seraya laju kereta, mengingatkan saya tentang perjalanan kita. 

Waktu itu pukul dua siang, dengan mendadak kamu menjemput saya. 

"Lagi dimana?"
"Di rumah, ada apa?"
"10 menit lagi saya sampai, siap-siap ya."

Kaget dan senang, dua kata yang menggambarkan suasana hati saya saat itu. Kamu; yang saya tau sedang melanjutkan studi di ujung pulau jawa, pulang, mendadak dan kurang dari 10 menit lagi sudah ada didepan rumah saya. 

"Oi... Main yuk." Teriakan itu selalu membuat jantung saya berdegup kencang
"Yuk, udah siap nih."

Seperti dulu, tiap sudah di mobil selalu bingung "Mau kemana ya kita?" "Kemana nih?" atau "Jalan aja dulu ntar juga tau mau kemana."

Hingga akhirnya, "Saya pergi kemana pun tidak masalah, asal perginya sama kamu." Namun kalimat itu selalu tertahan diujung lidah saya.
Lalu kami diam. Entah sampai kapan kami sampai ke tujuan. 

Salam,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pintar Bersama : MAKALAH DALIL RANTAI ATAU ATURAN RANTAI DALAM TURUNAN

MAKALAH DALIL RANTAI ATAU ATURAN RANTAI DALAM TURUNAN Disusun oleh: Dewi Martiwi Radiyanti (1522390141) Dosen Pembimbing: Ruruh Wuryani, S.Si, MM STMIK RAHARJA KOTA TANGERANG Jl. Jendral Sudirman No. 40 Modern-Tangerang, Banten 15117 Telepon : 021-552-9692, 021-552-9586 KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang   Dalil Rantai atau Aturan Rantai dalam Turunan ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Ruruh Wuryani S.Si MM, selaku Dosen mata kuliah Kalkulus yang telah memberikan tugas ini kepada saya.        Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan tentang Dalil Rantai dalam Turunan. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh ...

Cinta Pertama

Surat ini saya persembahkan untuk cinta pertama saya yang tidak akan pernah cukup untuk saya ucapkan terimakasih. Maka, terimakasih. Terimakasih. Terimakasih atas dekapan pertama saat saya lahir. Terimakasih atas senyuman bahagia serta candaan pun cubitan khas dikanan pipi. Terimakasih atas tangan yang selalu ada saat saya belajar jalan. Terimakasih atas hal-hal baru disetiap harinya. Terimakasih sudah memberi apa-apa yang saya butuh pun yang saya ingin. Terimakasih untuk teguran yang saya tau dipenuhi rasa sayang didalamnya. Saya tau itu. Saya mulai nakal. Terimakasih untuk punggung yang selalu ada untuk usek-usek hidung saya. Terimakasih untuk selalu mengingatkan saya bahwa saya perempuan yang paling kuat di dunia sekaligus anak perempuan (yang-selalu-kau-anggap) kecil satu-satunya dan paling manja di rumah. Terimakasih untuk sepasang telinga yang selalu siap-sedia-ada untuk saya. Terimakasih untuk "gapapa teh, tapi jangan diulangin lagi ya." Terimakasih untuk...