Langsung ke konten utama

Dari Si Pertama Untuk Si Kedua dan Ketiga

Untuk Aa, belajar yang rajin ya. Teteh juga mau, punya adek pinter. Jangan males. Makasih udah dianterin tiap hari ke kampus meskipun pake acara ngomel dulu. Jangan gede dulu ya. Ntar banyak yang naksir. Bahaya. Ntar ga nurut lagi. Tapi Aa kan masih SMA tapi ya terserah Aa.

Untuk Dede, jangan nyebelin plis atuhlah dirumah, paling kecil tapi paling nyebelin untung tetehnya sabar. Jangan cepet gede ntar gabisa berantem lagi sama Aa rebutan remote tv. Dede jagain Ibu dirumah, walaupun seringnya dicubitin. Abis masih lucu.

Maafin teteh belum jadi kakak yang baik, masih suka marah-marah, nyebelin, tapi kan teteh suka bawain makanan kan baik. Maafin juga teteh lebih suka ngebela Dede, karena Dede masih kecil, Aa ngalah dulu ya. Ntar juga gedean dikit Dede ngerti trus sayang sama Aa, tapi berantem aja dikit biar rumah ga sepi. Hehehe

Teteh sayang Aa sama Dede, selalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A letter for... A

I dont care where he is, who he is dating with, drinking with, holding hands with, hugging with, i couldnt care less who he is into, I feel jealous a lot, but more to like why i cant be near him to just see him, I care about how he is. Just how he is. How he feels, how his day goes by, how is his dream catching progressed, is he healthy, mentally safe and warm. I am fine.

Celoteh HP

Maaf tidak ada pesan Maaf tidak ada whatsapp Maaf tidak ada telepon Jika saja benda berlayar ini bisa bicara, ia akan meneriaki saya. Jika saja benda penuh getar ini bisa bicara, ia akan memaki saya. Jika saja benda yang sering digenggam ini bisa bicara, ia akan muak dengan ibu jari saya. "Pergi, cari kesibukan. Dia tidak mengirimmu pesan, entah whatsapp, atau telepon dimalam ini, matikan saja aku, Nona." "Sudah, tidak usah membuka kolom chatmu. Dia sudah tidak ada lagi disitu, balasan darimu hanya berakhir dengan tanda R." "Kamu tidak salah, jika hanya ceklis dua. Mungkin dia memang sibuk, atau sudah dibaca sekilas tanpa membuka ruang chat." "Tidak, dia masih ada. Entah di lini masamu atau memperhatikanmu di instagram story, atau bahkan tidak sengaja menyukai postmu." "Biarkan, entah dia yang perlu ruang atau kamu yang ternyata-sangat-butuh-dia saat ini." "Tidur, dia tidak akan mengirimu pesan malam ini." ...

Seharusnya

Seharusnya saya tidak menulis tentang kamu lagi, walau kenyataanya kamu penuh imaji yang ingin saya tuangkan lewat tulisan terus-menerus. Layaknya candu, saya ketagihan. Seharusnya juga saya tidak mementingkan kamu lagi pun saya tidak amat penting jua untukmu. Seharusnya juga saya tidak menunggu pesan singkat darimu lagi, yang nyatanya secepat mungkin saya membalas, selama itu pula kamu membalas. Seharusnya juga saya menahan diri untuk tidak (terlalu) senang, saat kamu bilang ingin menelpon tapi ternyata tidak. Seharusnya saya tahu diri. Seharusnya saya tidak dititik ini, sendirian. Seharusnya pula saya pergi. "Lebih baik saya kehilangan kamu, daripada saya kehilangan diri saya sendiri." Begitu. Seandainya kamu baca tulisan ini seperti sebelum-sebelumnya tolong jangan bertanya tulisan ini untuk siapa, kamu hanya cukup tau semua yang saya tulis ini untukmu. Saya pamit. Salam, quin-n