Langsung ke konten utama

Cinta Pertama

Surat ini saya persembahkan untuk cinta pertama saya yang tidak akan pernah cukup untuk saya ucapkan terimakasih.

Maka, terimakasih.
Terimakasih.
Terimakasih atas dekapan pertama saat saya lahir.
Terimakasih atas senyuman bahagia serta candaan pun cubitan khas dikanan pipi.
Terimakasih atas tangan yang selalu ada saat saya belajar jalan.
Terimakasih atas hal-hal baru disetiap harinya.
Terimakasih sudah memberi apa-apa yang saya butuh pun yang saya ingin.
Terimakasih untuk teguran yang saya tau dipenuhi rasa sayang didalamnya. Saya tau itu. Saya mulai nakal.
Terimakasih untuk punggung yang selalu ada untuk usek-usek hidung saya.
Terimakasih untuk selalu mengingatkan saya bahwa saya perempuan yang paling kuat di dunia sekaligus anak perempuan (yang-selalu-kau-anggap) kecil satu-satunya dan paling manja di rumah.
Terimakasih untuk sepasang telinga yang selalu siap-sedia-ada untuk saya.
Terimakasih untuk "gapapa teh, tapi jangan diulangin lagi ya."
Terimakasih untuk "teh sini nonton bola, tapi beli cemilan dulu, Chelsea main nih bentar lagi" dihampir setiap malam minggu alih-alih membiarkan saya tidur atau bahkan pergi keluar dengan teman saya.
Terimakasih pelukan hangat serta elus kepala buai rambut yang masih ada sampai saat ini, dan saya harap sampai nanti. Yang entah kapan. Semoga.
Terimakasih untuk segala hal, yang saya tau bahwa kata "Terimakasih" saya tidak akan cukup, meski saya tau tak perlu berterimakasih, karena bagimu kecukupan dan kebahagiaan saya lebih penting.
Tolong dampingi saya tumbuh, dan berhasil menjadi kebanggaanmu. Ah, saya meminta lagi kan, bahkan yang saya tau tanpa diminta pasti akan kamu lakukan, bukan?

Panjang umur dan selalu sehat ya, Pak. Semoga.


Salam sayang,

Anak perempuan kesayangan Bapak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A letter for... A

I dont care where he is, who he is dating with, drinking with, holding hands with, hugging with, i couldnt care less who he is into, I feel jealous a lot, but more to like why i cant be near him to just see him, I care about how he is. Just how he is. How he feels, how his day goes by, how is his dream catching progressed, is he healthy, mentally safe and warm. I am fine.

Celoteh HP

Maaf tidak ada pesan Maaf tidak ada whatsapp Maaf tidak ada telepon Jika saja benda berlayar ini bisa bicara, ia akan meneriaki saya. Jika saja benda penuh getar ini bisa bicara, ia akan memaki saya. Jika saja benda yang sering digenggam ini bisa bicara, ia akan muak dengan ibu jari saya. "Pergi, cari kesibukan. Dia tidak mengirimmu pesan, entah whatsapp, atau telepon dimalam ini, matikan saja aku, Nona." "Sudah, tidak usah membuka kolom chatmu. Dia sudah tidak ada lagi disitu, balasan darimu hanya berakhir dengan tanda R." "Kamu tidak salah, jika hanya ceklis dua. Mungkin dia memang sibuk, atau sudah dibaca sekilas tanpa membuka ruang chat." "Tidak, dia masih ada. Entah di lini masamu atau memperhatikanmu di instagram story, atau bahkan tidak sengaja menyukai postmu." "Biarkan, entah dia yang perlu ruang atau kamu yang ternyata-sangat-butuh-dia saat ini." "Tidur, dia tidak akan mengirimu pesan malam ini." ...

Seharusnya

Seharusnya saya tidak menulis tentang kamu lagi, walau kenyataanya kamu penuh imaji yang ingin saya tuangkan lewat tulisan terus-menerus. Layaknya candu, saya ketagihan. Seharusnya juga saya tidak mementingkan kamu lagi pun saya tidak amat penting jua untukmu. Seharusnya juga saya tidak menunggu pesan singkat darimu lagi, yang nyatanya secepat mungkin saya membalas, selama itu pula kamu membalas. Seharusnya juga saya menahan diri untuk tidak (terlalu) senang, saat kamu bilang ingin menelpon tapi ternyata tidak. Seharusnya saya tahu diri. Seharusnya saya tidak dititik ini, sendirian. Seharusnya pula saya pergi. "Lebih baik saya kehilangan kamu, daripada saya kehilangan diri saya sendiri." Begitu. Seandainya kamu baca tulisan ini seperti sebelum-sebelumnya tolong jangan bertanya tulisan ini untuk siapa, kamu hanya cukup tau semua yang saya tulis ini untukmu. Saya pamit. Salam, quin-n