Langsung ke konten utama

Main Ke Java Jazz Festival

Jadi, guys.
Lho kaya udah nyampein aja deww.
Ok ok jadi, guys.
Saya dapat kesempatan buat nonton Java Jazz Festival 2017 di Jiexpo Kemayoran.
I am so exciteeed, OMG finally.
Dapet invitation dari BNI buat datang dan menghadiri Java Jazz Festival daily pass day 2.
Iya, temen-temen saya udah nebak dan pasti tebakannya bener.
"Ah pasti dewi mah menang kuis lagi"
Alias emang bener dong dan seneng banget.
Saya udah 2 kali daftar volunteer JJF, dan ga lolos ehehe but dikasih daily pass aku yo sueneng rek!
"dew kado ulangtahun tuh" iya dooong
"dew kesana sama siapa?" jadi karena dapet invitationnya satu doang akhirnya berangkat sendiri.
Karena kadang cukup diri sendiri yang bisa bikin bahagia.
Halah, padahal ngeles.
Sampai di the day, dari yang awalnya buta karena belum ke Jiexpo sama sekali. Literally nekat, "bukan dewi kalo ga nekat pergi sendiri" all my friends said. Itu omongan kaya saya jomblo banget ya sendiri terus. Padahal mah iya!
Hasil googling sana sini, sampai cari temen nonton ditwitter. Iya segalanya ada ditwitter, saya sayang twitter. Eh akhirnya ga dapet dong bener-bener sendiri.
Jadi saya ke Java Jazz naik kereta, transit Stasiun Duri lalu sambung arah Kampung Bandan, trus turun di Stasiun Rajawali, abis itu lanjut bersama babang Grab, paling seneng deh ngobrol sama babang Grab, seperti..
"Mbak, mau nonton jazz ya"
"Lho iya mas, masnya kok tau"
"Iya mbak sering banget ada event jazz disitu, di pasar seni Ancol juga sering ada acara jazz gitu mbak"
"O iya mas, ini juga baru pertama kali nonton java jazz"
"Iya anak saya juga suka nonton jazz disana mbak"
"Waa mantap mas"
Jadi mau kenalan sama anaknya, ehehe ga ding, ga lama langsung nyampe Jiexpo deh karena ya ga lumayan jauh dari stasiun Rajawali.
Ternyata eh ternyata, Jiexpo mah biasa dipake buat PRJ. Hadeh, gt ya gt. Kemana aja lau dew.
Lalu saya masuk gerbang utama, flyer spanduk baliho hiho hiho Java Jazz Festival dimana-mana.
Cengo dong, yaudah langsung masuk diperiksa, scan tiket dll and voila.....
Cengo lagi, langsung menuju bagian informasi liat rundown acaranya trus kesana kesini gabut sekali dikarenakan masih sore tapi gapapa yang penting senang.
Cekrek...cekrek..cekrek, alias foto terus alias bohong sih suaranya ga cekrek orang disilent hehe hehe bisa liat-liat foto amatiran sepanjang jjf ada di instagram saya. ok ok pasti nungguin ya? idnya dewimartiwi ok jangan aneh gitu mukanya.

Dibuka dengan panggung luar yang enak banget tempatnya bisa bobo bobo gitu di bawah panggung, lalu usut punya usut ada di hall D lebih menarik karena ada bintang-bintang saya!!!!!!!! ok selow dew.
Dibuka sama penampilan Yura, dilanjut Tulus, Gleen, Saykoji, dan Armand Maulana. Ya Allah too much idols in one stage, gue mau nangis rasanya.
Entah Tulus yang bawain Monokrom yang selalu pas sampai Tulus ngerap bareng Saykoji aku yo nangis beneran.
Trus Yura yang lagunya..... ya you know lha langsung meloow dong yakali engga gila aja loeeee. ok selow dew.
Gleen yang parah parah banget serius huuua air mataku.
Armand gila sih masih flawwwless banget.
Itu sepanjang yamaha orchestra tampil gue nangis doang isinya haha haha ga deng,  i couldnt stop to singing parah sih nyanyi semua alias yaiyala namanya juga konser dew
Tapi seneng bangeeeet........ aslik!


Tunggu ya kelanjutannya, capek juga.

Salam,

D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A letter for... A

I dont care where he is, who he is dating with, drinking with, holding hands with, hugging with, i couldnt care less who he is into, I feel jealous a lot, but more to like why i cant be near him to just see him, I care about how he is. Just how he is. How he feels, how his day goes by, how is his dream catching progressed, is he healthy, mentally safe and warm. I am fine.

Celoteh HP

Maaf tidak ada pesan Maaf tidak ada whatsapp Maaf tidak ada telepon Jika saja benda berlayar ini bisa bicara, ia akan meneriaki saya. Jika saja benda penuh getar ini bisa bicara, ia akan memaki saya. Jika saja benda yang sering digenggam ini bisa bicara, ia akan muak dengan ibu jari saya. "Pergi, cari kesibukan. Dia tidak mengirimmu pesan, entah whatsapp, atau telepon dimalam ini, matikan saja aku, Nona." "Sudah, tidak usah membuka kolom chatmu. Dia sudah tidak ada lagi disitu, balasan darimu hanya berakhir dengan tanda R." "Kamu tidak salah, jika hanya ceklis dua. Mungkin dia memang sibuk, atau sudah dibaca sekilas tanpa membuka ruang chat." "Tidak, dia masih ada. Entah di lini masamu atau memperhatikanmu di instagram story, atau bahkan tidak sengaja menyukai postmu." "Biarkan, entah dia yang perlu ruang atau kamu yang ternyata-sangat-butuh-dia saat ini." "Tidur, dia tidak akan mengirimu pesan malam ini." ...

Seharusnya

Seharusnya saya tidak menulis tentang kamu lagi, walau kenyataanya kamu penuh imaji yang ingin saya tuangkan lewat tulisan terus-menerus. Layaknya candu, saya ketagihan. Seharusnya juga saya tidak mementingkan kamu lagi pun saya tidak amat penting jua untukmu. Seharusnya juga saya tidak menunggu pesan singkat darimu lagi, yang nyatanya secepat mungkin saya membalas, selama itu pula kamu membalas. Seharusnya juga saya menahan diri untuk tidak (terlalu) senang, saat kamu bilang ingin menelpon tapi ternyata tidak. Seharusnya saya tahu diri. Seharusnya saya tidak dititik ini, sendirian. Seharusnya pula saya pergi. "Lebih baik saya kehilangan kamu, daripada saya kehilangan diri saya sendiri." Begitu. Seandainya kamu baca tulisan ini seperti sebelum-sebelumnya tolong jangan bertanya tulisan ini untuk siapa, kamu hanya cukup tau semua yang saya tulis ini untukmu. Saya pamit. Salam, quin-n