Langsung ke konten utama

Untuk Tuan

Dengan segala romansa, dan hal-hal tentang seseorang.

Saya mengunjungi kotamu, Tuan. 
Ini yang pertama; untuk alasan khusus.
Rencana tak ada, hanya tekad dan harap agar berjalan dengan semestinya. 

Tiba di kotamu, saya langkahkan kaki keluar peron dari stasiun besar itu. 
Nasi goreng, mie kocok, mie ayam langsung menghantam saya dan alarm kelaparan bunyi tepat di halaman stasiun. 

Perjalanan baru dimulai. 
Semesta, tolong kejutkan saya. 

Pukul 9 malam. Betul katamu -- kotamu selalu dingin, dengan baju yang cukup tebal untuk menahan angin masuk tubuh saya, saya keluar mencari makan untuk bekal tidur lelap, nasi goreng for the rescue! 

Esok langkah ini lebih jauh dari rumah. 
Ingatan akan lebih kuat untuk merekam apa-apa yang tidak bisa ditangkap kamera. 

Tiba di kotamu ini untuk apa, Tuan? 
Baca judul dengan keras. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A letter for... A

I dont care where he is, who he is dating with, drinking with, holding hands with, hugging with, i couldnt care less who he is into, I feel jealous a lot, but more to like why i cant be near him to just see him, I care about how he is. Just how he is. How he feels, how his day goes by, how is his dream catching progressed, is he healthy, mentally safe and warm. I am fine.

Seharusnya

Seharusnya saya tidak menulis tentang kamu lagi, walau kenyataanya kamu penuh imaji yang ingin saya tuangkan lewat tulisan terus-menerus. Layaknya candu, saya ketagihan. Seharusnya juga saya tidak mementingkan kamu lagi pun saya tidak amat penting jua untukmu. Seharusnya juga saya tidak menunggu pesan singkat darimu lagi, yang nyatanya secepat mungkin saya membalas, selama itu pula kamu membalas. Seharusnya juga saya menahan diri untuk tidak (terlalu) senang, saat kamu bilang ingin menelpon tapi ternyata tidak. Seharusnya saya tahu diri. Seharusnya saya tidak dititik ini, sendirian. Seharusnya pula saya pergi. "Lebih baik saya kehilangan kamu, daripada saya kehilangan diri saya sendiri." Begitu. Seandainya kamu baca tulisan ini seperti sebelum-sebelumnya tolong jangan bertanya tulisan ini untuk siapa, kamu hanya cukup tau semua yang saya tulis ini untukmu. Saya pamit. Salam, quin-n

Celoteh HP

Maaf tidak ada pesan Maaf tidak ada whatsapp Maaf tidak ada telepon Jika saja benda berlayar ini bisa bicara, ia akan meneriaki saya. Jika saja benda penuh getar ini bisa bicara, ia akan memaki saya. Jika saja benda yang sering digenggam ini bisa bicara, ia akan muak dengan ibu jari saya. "Pergi, cari kesibukan. Dia tidak mengirimmu pesan, entah whatsapp, atau telepon dimalam ini, matikan saja aku, Nona." "Sudah, tidak usah membuka kolom chatmu. Dia sudah tidak ada lagi disitu, balasan darimu hanya berakhir dengan tanda R." "Kamu tidak salah, jika hanya ceklis dua. Mungkin dia memang sibuk, atau sudah dibaca sekilas tanpa membuka ruang chat." "Tidak, dia masih ada. Entah di lini masamu atau memperhatikanmu di instagram story, atau bahkan tidak sengaja menyukai postmu." "Biarkan, entah dia yang perlu ruang atau kamu yang ternyata-sangat-butuh-dia saat ini." "Tidur, dia tidak akan mengirimu pesan malam ini." ...